Getting Married

Banyak yang bertanya pada saya, untuk apa nikah cepat? Memangnya tidak mau membahagiakan orang tua terlebih dahulu? Apakah kamu sudah siap menanggung semua beban setelah pernikahan? Apakah kamu sudah bisa mengurus bayimu, saat buang air besar, memandikan, dll? Apakah kamu sudah siap mental menghadapi calon mertua?

Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa saya masih belum siap, masih belum dewasa, masih kekanak-kanakan, belum saatnya memikirkan pernikahan. Saya masih lelet dalam mengerjakan segala hal. Saya tidak terampil dalam memasak. Intinya saya terkesan masih sangat jauh dalam urusan pernikahan. Hubungan saya ini dianggap hanya main-main saja oleh kedua orang tua. Bahkan ayah saya mengatakan padaku untuk jangan menjanjikan apapun terlebih dulu pada dia. Masih banyak orang lain yang lebih baik untuk saya, dan sejumlah alasan lainnya. Ibu saya bahkan mengatakan bahwa saya minimal harus d4 atau s1 dulu sebelum menikah, dan harus memiliki rumah sendiri. Ah banyak sekali alasannya ini.

Banyak pertanyaan yang terpikirkan dalam otak saat ini. Hanya ada 1 orang yang bisa kuajak berbagi pikiran. Seseorang yang sangat mengerti semua keresahanku ini, yang bahkan mungkin dia saja belum terlalu memikirkan hal ini. Apakah alasannya karena dia masih belum siap? Apakah dia ingin membahagiakan orang tuanya dulu?

Sungguh, apabila alasannya begitu, saya pun ingin membahagiakan orang tua saya. Apakah hal ini tidak bisa kita lakukan setelah kita menikah? Mengapa pernikahan muda itu dianggap tabu oleh masyarakat?

Saya hanya ingin melegalkan rasa cinta yang tertanam dalam hati kita masing-masing. Alangkah senangnya bagi pasangan yang sudah mantap dan siap untuk membicarakan hal ini dari dini. Saya iri dengan mereka. Mungkin saya saja yang masih belum berani untuk berterusterang pada dia. Namun begitu, saya toh akan membicarakan hal ini juga dengan dia suatu saat, jadi untuk apa menunggu lebih lama lagi untuk mempersiapkan pernikahan kita?

Kita hanya harus menyiapkan diri kita masing-masing. Pernikahan memang harus dibangun dengan pondasi yang kokoh, tidak hanya sekedar jalan pintas agar menghalalkan segala jalan. Banyak pertanyaan mendasar yang harus kita jawab bersama sebelum pernikahan, seperti untuk apa kita menikah, dll. Saya tahu, banyak di antara mereka yang menganggap pernikahan muda itu akan ada banyak permasalahan, namun apakah ada jaminan bahwa nikah di usia terlampau tua tidak akan banyak permasalahan? Banyak yang berpendapat, kemapanan dijadikan satu faktor utama dalam pernikahan, namun kalo sampai umur 70 tahun tidak mapan-mapan, lalu tidak nikah begitu? Ada juga yang berpendapat bahwa pamali melangkahi kakak untuk menikah, katanya kakak tersebut nanti tidak akan mendapat jodoh. Namun, apabila sampai tua kakak tersebut tidak nikah-nikah, lalu adiknya bagaimana, tidak nikah juga begitu? Bukankah menghalangi niat baik seperti pernikahan akan menutup pintu rizki bagi orang tersebut? Banyak sekali ya permasalah sebelum pernikahan itu.

Sebenarnya setiap permasalahan itu yang membuat hanyalah diri kita sendiri. Terlalu banyak pemikiran yang tidak perlu sudah kita pikirkan dan kemudian menjadi resah sendiri, bahkan sebelum permasalahan tersebut benar-benar terjadi. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Sebelum berhadapan dengan orang tua, kita harus fokus memperbaiki diri sendiri dulu. Memantapkan hati, emosi, pikiran, spiritual, dan tentu saja faktor keuangan pun tidak bisa dianggap angin lalu. Memang uang itu bukan segalanya, namun tidak bisa dipungkiri, banyak permasalahan terjadi disebabkan oleh uang.

Segala hal di dunia ini berhubungan dengan uang. Menikah perlu uang, membesarkan anak perlu uang, membeli rumah dan perabotan, mobil, motor, dll, itu semua perlu uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Namun uang bukanlah alasan utama yang harus kita pikirkan sebelum menikah. Percuma saja kita memiliki uang banyak namun kita tidak mantap emosi, pemikiran, hati, spiritual. Semua faktor-faktor ini harus kita memiliki agar pondasi keluarga kita bisa berdiri dengan kokoh dan tidak mudah ambruk. Namun bukan berarti memiliki pondasi yang kuat itu kita harus menunggu terlalu lama dalam persiapan. Bahkan dalam waktu singkat, apabila memang telah siap, pernikahan pun bisa langsung diadakan. Semuanya kembali lagi pada diri kita masing-masing. Jadi, untuk apa terlalu pusing memikirkan nanti bagaimana. Toh belajar naik mobil pun bukan hanya dalam teori, tapi langsung praktek kan?

Ah, apakah ini berarti saya telah siap? Entahlah, saya pun tidak mengetahuinya. Yang saya tahu, saya ingin mempersiapkan pernikahan kita dari jauh-jauh hari. Jangan sampai kita baru siap-siap nanti. Saya berfikiran hal ini pun tidak berarti saya ingin menikah besok, bukan. Setidaknya saya ingin lebih mempersiapkan kematangan diri saya untuk menghadapi tantangan kehidupan. Bagaimana dengan dia? Bagaimana denganmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s