Suatu Senja di Bumi Laskar Pelangi

Hari sabtu kemarin (13 Februari 2016) ba’da ashar, Iqbal mengirim WA ke aku. Isi WA-nya itu mengajak aku dan Pipit ke Pantai Tanjung Tinggi. Awalnya bingung, hampir mau menolak ajakan Iqbal karena Pipit lagi lembur kerja waktu itu. Tapi tiba-tiba Pipit langsung pulang dari kantor. Langsung lah aku buru-buru ganti baju dan siap-siap. Kata Iqbal, “Jangan dandan ya” Yaudah aku Cuma memakai kerudung langsung haha.. Akhirnya ke Tanjung Tinggi lagi, pikirku. Selalu menyenangkan memang jalan-jalan bersama mereka.

Pukul 16.15, jemputan kami datang. Mas Enggar, Mas Dede, dan Iqbal menjemput kami. Aku berfikir, sedikitan banget nih yang ke Tanjung Tinggi. Biasanya ramean sama Pak Itok, mba Irma, dll. Tapi yaudah gpp, toh bareng mereka juga asik banget kok. Eh ternyata di jalan kita menjemput Jansen dan Dika dulu. Dan ketika sudah sampai tempatnya, ternyata banyakan banget yang sudah duluan ke Tanjung Tinggi. Ada Mas Ikhwan dan istri, Mas Herman dan istri, Arif, Yoso, Soni, dan 1 lagi  anak S1 yang aku lupa namanya. Seru banget. Sensasi memanjat batu raksasa itu sesuatu banget. Takut jatuh, takut kayunya patah, pokoknya segala takut deh. Nih, ini foto-foto pas mau lagi memanjat batu.

Iqbal dan Jansen baik banget. Mereka membantu aku untuk memanjat batu. Membantunya bagaimana? Entah darimana asalnya, tiba-tiba Jansen mengulurkan tongkat kayu. Jansen tau banget aku tidak boleh menyentuh lawan jenisku, jadi dia menarikku dengan menggunakan kayu. Sampai akhirnya aku bisa naik ke atas. Batu ini tinggi banget lho. Sebenernya ini kali keduaku memanjat batu tinggi ini, dulu pertama kali aku menemukan Pantai Kiri ini, tangganya masih belum ada dan sama sekali ga ada orang disitu. Tapi kemarin, tempat itu sudah diketahui banyak orang, jadi yaaa sudah ga eksklusif lagi. Foto sebelah kanan itu foto pertama kali aku kesini. Kelihatannya pendek kan batunya, tapi sebenernya tinggi banget lho!

20160213_172738

Ini bukti ketinggian batu-batu di Tanjung Tinggi. Kalau hanya dari foto ga bakal terlihat tinggi, tapi kalau sudah merasakannya sendiri, ngeri bangeeeet!

Awalnya hanya aku, Pipit, Jansen, Iqbal, Mas Dede, dan Arif saja yang pergi mendaki batu-batu di pantai sebelah kiri, namun lama kelamaan semua orang juga ikutan memanjat batu tinggi ini. Bisa dibilang, pemandangan di Pantai Kiri Tanjung Tinggi ini lebih bagus daripada yang di tengah dan kanan. Menikmati senja di pantai memang pilihan yang pas sekali.

This slideshow requires JavaScript.

Foto di atas, dari kiri ke kanan, Mas Dede, Iqbal, Arif, Pipit, aku, dan Jansen. Yes, Go Go Power Ranger! We are here to save Bumi Belitong from Evil Queen Rita! #MightyMorphinPowerRanger #LoveTommy #Love Kimberly #MasaKecilBahagia #SaveChildrenToday #EraKeemasan #TooManyHashtags

Properti yang dipakai di atas itu adalah buatan teman kami Yoso saat kami pertama kali merambah bagian kiri pantai. entah bagaimana bisa tongkat sakti ini masih ada. yah, walaupun nimbus 2000 ga ada, tongkat kayu ini bisa lah diimajinasikan sebagai sapu terbang jaman sekarang.. haha

Saat mentari mulai tenggelam, barulah kami mengabadikannya lewat foto-foto cantik. Hasilnya pun cantik sekali. Untung ada Mas Herman yang mengerti DSLR. Akhirnya kami mendapatkan bukti bahwa kami menikmati masa muda kami di Bumi Belitong. Berasa menjadi pemuda-pemudi Laskar Pelangi.

Pertanyaannya saat ini, apakah aku menyesal penempatanku jauh dari rumah saat ini? Jawabanku, tidak. Tidak sama sekali. Aku sangat menikmati kehidupanku disini. Semuanya berawal disini. Belajar motor disini, memiliki motor sendiri, jalan-jalan di pantai, karaoke, semuanya asik disini.

Coba kalau penempatan pertamaku di Jakarta atau di Jawa, aku tidak akan menikmati indahnya Bumi Belitong ini. Tapi hanya 1 sih kekurangannya, kurang bioskop saja disini. Bagi penggemar film seperti aku, tidak ada bioskop ini sangat menyedihkan. Mau tidak mau harus menunggu berbulan-bulan dulu sehingga aku bisa menonton blue-ray. Tapi yaa gpp, hitung-hitung menghemat pengeluaranku juga kan.

Jadi, setiap pilihan Allah swt itu memang yang terbaik. Apa yang menurut kita terbaik, belum tentu menurut Allah swt yang terbaik. Terima kasih atas segala takdir yang Engkau berikan Ya Allah. Terima kasih telah menunjukkan belahan bumi yang lain untukku dan teman-temanku. Subhanallah.. Semoga saja aku bisa menikmati indahnya Bumi Inggris di lain kesempatan. Aamiin  😀

 Tanjung Pandan,  17 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s