Diklat Teknis Umum DJPB Part 1

Hari ini tanggal 4 April 2016, sudah 6 bulan lebih sejak kita melaksanakan Diklat Teknis Umum (DTU). Entah mengapa, tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang pengalaman saya saat DTU.

DTU kami dimulai dari tanggal 13 September hingga 19 September 2015. Saya berangkat dari Cirebon ke Jakarta bersama rekan-rekan OJT KPPN Cirebon. Kami berenam berangkat tanggal 12 September sore karena kami harus registrasi pagi hari di Gadog, Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan kita tercinta. (Lain kali saya juga ingin bercerita tentang DTSD {Diklat Teknis Substansi Dasar} kami disini)

Pukul 06.00 pagi kami sudah siap-siap untuk berangkat menuju Terminal Senen. Kami menaiki bus APTB jurusan Bogor. Sebenernya bisa juga sih menggunakan KRL, tapi jarak antara stasiun bogor hingga Gadog jaraknya cukup jauh jadi kami memilih untuk menggunakan APTB saja dengan jarak yang lumayan dekat (hanya 1 kali angkot, harus 3 kali angkot apabila naik KRL) walaupun harganya lebih mahal (KRL 5 ribu, APTB 16 ribu).

Sampai di Gadog, kami harus menunggu antrian untuk bisa registrasi. Sebenarnya grup OJT Jawa Barat dijadwalkan registrasi pada pagi hari pukul 10.00 setelah grup OJT Jakarta, namun entah mengapa lama sekali mereka selesainya. Akhirnya kami baru bisa diberangkatkan dari Gadog menuju lokasi DTU kami di Ciampea, Bogor pukul 18.30 ba’da magrib. Kami naik truk TNI untuk sampai ke Ciampea. Sayang sekali kami tidak boleh membawa hp, jadi kami tidak bisa mengabadikan momen saat kami menaiki truk tni ini. Tapi memori saat itu, masih lekat tertanam dalam ingatanku. Truk itu tinggi banget. Saya sampai harus meminta bantuan pada Jacson untuk menarikku ke atas truk tersebut. Untungnya saya tidak jatuh haha. DTU memang diciptakan bukan untuk seseorang yang penakut hihihi

Singkat cerita, kira-kira pukul 7 malam kami baru sampai Ciampea. Ternyata benar kata Arip, sebaiknya jangan pake jeans ke Ciampea ini, karena dari tempat kita di drop oleh truk tni, jarak menuju perkemahannya cukup jauh. Dan kami mau tidak mau harus membawa sendiri barang-barang kami. Saya berjalan sendiri ke tempat kemah tersebut. Di tengah perjalanan, namaku dipanggil oleh pelatih.

“Eh amel, ketemu lagi kita!”

Deg, jantungku mau copot saja mendengar namaku disebut. Suaranya itu mirip sekali dengan pelatih yang tidak saya sukai saat prajab (tidak ada yang menyenangkan saat prajab, jadi saya tidak akan menceritakannya L). Saya tidak menggubris sapaan tersebut, selain muka pelatih tersebut tidak terlihat karena saat itu gelap sekali dan hanya pelatih yang membawa senter untuk menyoroti muka kami masing-masing, saya sebisa mungkin menghindari pelatih tersebut. Saya sudah membayangkan saja, nasib saya seminggu ke depan pasti tidak menyenangkan L

Kami dibagi menjadi 13 tenda. Saya berada di tenda 11. Saya fikir, kami akan tidur di tanah seperti saat camping SMP dan SMA, namun ternyata ada velbed (kasur tentara). Untung saja dulu saya tidak jadi membeli sleeping bag, tidak berguna untuk dipakai disini.

Setelah kami semua menaruh tas dan barang-barang kami, kami berkumpul di lapangan besar. Saya mengobrol seperti biasa bersama teman-teman kami. Tiba-tiba saya dibentak dari belakang, “Eh amel! Jangan berisik!” Sontak saya langsung menjawab, “Siap pelatih!” Teman-teman saya juga bingung, mengapa saya sudah dikenal pelatih. Yah, itu semua bermula saat prajab. Kami berdelapan, Bobby, Ale, Dicky, Ario, Adit, Hafidz, Avi, dan saya, Prajab Wisma Duta Wiyata (WDW) Angkatan 5 Instansi DJPB, selalu terkena semprotan oleh pelatih saat prajab. Bobby dan Dicky disuruh membawa gabus besar berbentuk hp karena mereka ketahuan pelatih telponan saat di kamar, Ale disuruh memakai topi dari semangka karena saat ditanya suka makan buah apa dia jawabnya semangka, Adit yang terlihat lucu di hadapan pelatih jadi selalu digodain, Hafidz yang didandani seperti banci jalanan karena mengatakan tidak sanggup lagi melakukan posisi push up dengan satu tangan dan satu kaki diangkat, Avi yang disuruh jalan mundur karena mengeluarkan unek-unek saat kelasnya disuruh jalan mundur, dan Ario. Hmm dia mah cuma dijitak saja oleh pelatih, bukan masalah besar. Dan aku yang terakhir. Yang paling parah diantara semuanya.

Awal mulanya itu karena sepatu saya disembunyikan oleh salah satu pelatih. Lupa namanya siapa (lebih tepatnya tidak mau diingat-ingat lagi). Saya marah sama pelatih tersebut. Sontak saya menangis. Mungkin mental saya kurang kuat dan juga karena banyak hal-hal yang kurang bagus untuk dibicarakan disini. They did something to me that I will never forgive.

Wow, mengapa jadi membicarakan prajab yak.. hmmm.. Okeh, kembali lagi pada DTU. Pada pagi harinya kami disuruh bangun pukul 4 pagi untuk melakukan senam pagi. Benar-benar tidak berperikemanusiaan dan perikeadilan. Mata belum terbuka dengan sempurna, kami dipaksa menggerakan badan. Loncat-loncat ayo semangat 1 hingga 10 (kalau sudah pernah prajab pasti tahu gerakan ini bagaimana).

Setelah itu kami solat subuh dan pukul 6 pagi kami berkumpul lagi di lapangan untuk melaksanakan makan pagi. Petugas piket saat itu adalah Adit. Pasti pelatih Soriton yang memilih. Secara, prajab angkatan 5 kami baru saja selesai. Seperti masih fresh dalam ingatan pelatih-pelatih siapa saja kami.

Tiba-tiba nama saya dipanggil oleh pelatih Soriton. DUH! Dengan langkah gontai, saya berjalan ke depan lapangan. Saya ditanya oleh pelatih, apa yang berbeda dari Adit. Saya berfikir, apa yak. Saya tidak menemukan perbedaan Adit. Lalu pelatih memanggil Ale untuk maju ke depan. (Tuh kan! Angkatan 5 lagi!) Ale ditanya dengan pertanyaan yang sama. Tapi dia juga tidak bisa menebak apa perbedaannya. Akhirnya kepala kami berdua kena jitakannya pelatih Soriton. (Dosa apa hambamu ini Ya Allah, baru saja semalam disini sudah dibeginiin…) Akhirnya pelatih memberi tahu bahwa Adit sudah tidak berkumis lagi saat ini. OH EM JI! Mana perhatiin kan!

Singkat cerita insiden pagi itu pun berlalu. Kami bersiap-siap ke lapangan besar yang lain untuk melewati hari-hari DTU. Pagi hari itu dilaksanakan apel pagi. Di setiap apel pagi, dilaksanakan acara pertukaran posisi petugas piket. Tiba-tiba Adit memanggil nama saya! Mau nangis rasanya. Sempat froze sebentar, tapi kemudian saya langsung berlari menuju Adit. “Oh Tuhan mengapa harus aku?!” Saya akhirnya sampai di depan Adit. Adit meringis hampir tertawa melihat saya sedih, campur bingung, pokoknya campur aduk! Mungkin karena dia juga senang bebannya sebagai piket sudah terangkat. Yah sudahlah, nasib juga yang menghantarkanku pada tugas ini. Dibentak-bentak, dimarahi, dan dicaci, semua hal itu sudah kuperkirakan akan terjadi sebentar lagi. Ah, memang sudah takdir.

berlanjut ke part 2 ya.. hihihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s