Diklat Teknis Umum DJPB Part 2

Setengah hari kami dihabiskan dengan MFD (guling-guling, merayap, jalan jongkok, lari, etc). Tapi ya hanya itu, setengah hari saja kami melakukan MFD. Pikirku, kok begini doang ya DTU? Padahal saya kira kami akan diperlakukan lebih parah lagi daripada prajab. “Ini mah dtu bahagia,” sahut warga WDW. Yah karena kami sudah pernah menerima yang jauh lebih keras daripada ini (Wisma Pembina sama LPMP mah lewat, apalagi BDK Cimahi!)

Setelah istirahat siang, kami melakukan pemilihan Senat dan Wakil Senat. Saya sama sekali tidak ingin menjadi senat. Memiliki tugas sebagai senat itu tidak ada enaknya sama sekali. Apabila anak buahnya ada salah, senat juga terkena hukumannya. Entah itu disuruh guling, lari, lompat-lompat, apapun itu. Namun apa daya, sepertinya pelatih doyan sekali mengerjaiku. Saya disuruh berdiri di depan dan mencalonkan diri menjadi Wakil Senat. Semua siswi ditanya oleh Pelatih Soriton, apakah mereka siap dipimpin oleh saya. Semuanya berkata siap. Padahal saya sudah mengirimkan sinyal memohon mereka untuk tidak memilihku. Tapi mereka juga tidak bisa berkata tidak pada pelatih. Jadi yaa mereka juga terpaksa berkata iya. Namun sepertinya keberuntungan memihak kepadaku. Pemilihan ulang pun diadakan. Ada 3 calon wakil senat putri saat itu. Nesty, saya, dan satu lagi anak S1 yang saya lupa namanya. “Jangan pilih aku.. jangan.. please..” saya memohon pada mereka. Untungnya mereka mengabulkan permohonanku. Saya sama sekali tidak dipilih. AHA! Senangnya.. 😀 Tapi Pelatih Soriton ternyata tetap memilihku untuk menjadi Wanat 2. Malang nian nasibku.

Jadilah saya, Wakil Senat 2. Tapi ada untungnya sih, saya jadi lebih dikenal di angkatan perben kali ini. Hehehehe =3

Menjadi petugas piket sehari plus Wanat 2 sungguh di luar dugaan. Membagi-bagikan makanan kepada seluruh anak, memimpin dalam membaca doa sebelum makan, memimpin dalam apel, semua itu saya lakukan dari pagi, siang, sore, malam, hingga esok paginya kembali. Akhirnya saya bebas tugas dari piket.

Hari-hari kami ke depannya monoton. Apel pagi, MFD sekedarnya (tapi masih banyak yang muntah sih, bukan lulusan WDW sih hahaha), latihan berbaris, latihan masuk ruangan atasan (which we won’t ever do that in reality!), menyanyikan yel-yel, latihan mengibarkan bendera, pembacaan UUD 1945, tidur siang (yes, benar sekali, kami disuruh tidur siang di lapangan, di bawah rindangnya pohon, berasa anak TK), apel sore, makan malam, tidur, gantian jaga malam per jam nya, senam pagi, dan seterusnya. Begitulah rutinitas DTU kami.  Inilah yang kami sebut DTU bahagia.

Pengalaman kami saat DTU ada juga yang menarik sih. Kita ada jurit malam! Asik banget lho. Kita disuruh melintasi hutan yang di dalamnya tentu saja dipenuhi dengan jebakan-jebakan. Untung saja saya tidak diberi penglihatan berlebih oleh Allah swt untuk melihat “sesuatu”, karena saya yakin di hutan seperti itu pasti ada “sesuatu”. Kami diberi sandi pada awal perjalanan, kami tidak boleh memberitahu sandi tersebut pada siapapun, jadi saat pelatih-pelatih bertanya pada kami di setiap pos, kami pura-pura amnesia dan tidak tahu apapun.

Setan-setanan pun dibuat oleh pelatih. Ada kuntilanak (tiba-tiba jatuh tergantung dari pohon, saya tidak berani melihat), pocong-pocongan yang jatuh bergelimpungan di bukit di depan kami yang entah mengapa jadi pemandangan yang lucu sekali (bunyi gedebog pisang santer terdengar), pelatih yang tiba-tiba muncul mengagetkan kami (ini bikin kaget sih), hingga akhirnya kami melewati gubuk, dan sampailah pada pos yang terakhir. Sudah itu saja pengalaman jurit malam kami. Tidak terlalu menakutkan sih, tapi lumayan lah. Hahaha

Alhamdulillah kami lulus ujian jurit malam semalam. Ternyata banyak kelompok yang memberitahukan sandi tersebut kepada pelatih. Entah mengapa pula mereka dengan polosnya membeberkan sandi tersebut. Hukumannya, mereka yang atribut DTU nya tidak lengkap karena diambil paksa oleh pelatih semalam, harus merayap bolak balik, entah berapa kali. Mungkin saya tidak sanggup melakukannya. Untung saja kami tidak terkena hukuman tersebut.. hihihi

Sorenya, pegawai setditjen muncul saat apel sore. Jeleger!! Pegawai tersebut memberitahu kami bahwa hari Senin kami diharuskan berkumpul di Gadog kembali untuk pengarahan lebih lanjut. Perasaanya sama seperti yang saya tulis di postingan lalu. Padahal malamnya kami akan melaksanakan malam inagurasi. Sedikit sekali yang tersenyum malam itu. Kami berkumpul mengelilingi api unggun besar. Kami merenung bersama. Semua tahu sebentar lagi pengumuman penempatan. Kami dihibur dengan stand up comedy dari Raihan. Lalu berlanjut dengan nyanyian Christoffel.

Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..

Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..

Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..

Tahuna, Makale, Tobelo, Atambua..

Watampone~

Barabay~

Watampone, Muko-Muko, Wamena! ~~

Serui~~ wamena, wamena, wamena

Serui~~ wamena, wamena, wamena

Bagi kalian yang tidak mengerti arti lirik di atas, itu adalah nama-nama daerah tempat KPPN terpencil berada. Bagi temen-temen yang mendapat salah satu dari KPPN tersebut, niscaya akan selalu dikenang dalam hati (kepala menunduk haru).

IMG-20150928-WA0008
Korps OJT KPPN Cirebon

Well, tibalah saat perpisahan dari DTU kami. Alhamdulillah banget ada salah satu anak yang membawa Go Pro, jadi kita bisa foto-foto bersama pasca DTU. Nice banget. DTU tuh tidak penting sebenarnya, tapi acara kumpul-kumpul seangkatannya itu yang kita ingat selamanya.

Sampai jumpa lagi pada pertemuan seangkatan berikutnya. Semoga saja tidak ada DTU lagi.. hahaha

Aamiin :3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s