Berkah Ramadhan

Hari ini adalah hari yang sangat hectic di sepanjang musim liburan lebaran aku. Baru kali ini merasakan telat beli tiket pulang kampong yang menyebabkan tiket ludes habis dalam seketika. Baru kali ini pula aku ingin mencoba untuk pulang kampong melalui jalan darat a.k.a naik mobil atau travel. Segala macam rencana pun dibentuk olehku dan ayahku untuk bisa sampai dengan cepat di rumah tercinta, Cirebon.

Plan A
Naik pesawat tanggal 1 Juli 2016 pukul 16.20 dengan perkiraan MPN G-1 (Modul Penerimaan Negara a.k.a penerimaan pajak yang ditatausahakan oleh KPPN) telah ditutup, jadi tidak perlu melakukan interface LHP sore-sore. Lalu pulang naik travel dari gambir di malam harinya dengan perkiraan pagi hari sudah sampai di Cirebon. Namun rencana ini pupus karena ada perpanjangan MPN G-1 sehingga aku harus lembur di kantor hingga pukul 7 malam.

Plan B
Naik pesawat tanggal 2 Juli 2016 dengan penerbangan pagi paling murah. Saat itu aku membeli tiket Sriwijaya pukul 7.50 dengan harga 422 ribu rupiah. Citilink mahal, mencapai 560 ribu rupiah, sedangkan Garuda ga kira-kira, meroket hingga 1 juta rupiah! Ayah menunggu di pintu kedatangan. Tadinya ingin mencari travel di bandara yang langsung ke Cirebon, tapi tidak ada. Semuanya ke Bandung. Macet berkali-kali lipat kalau harus transit ke Bandung dulu. Hmm..

Akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke Gambir. Cari travel disana sambil membatalkan tiket keretaku (Purwojaya Lebaran pukul 19.30) yang aku beli 2 bulan yang lalu pada pukul 00.49.27 (tengah malam) dengan perjuangan yang tidak mudah juga (harus bolak-balik masuk aplikasi KAI Access yang ga bisa-bisa diakses karena load booking tiket membanjir saat itu).
Tenyata proses membatalkan tiket keretaku ini juga sangat rempong. Aku mengambil antrian. B335 nomer antrianku. Aku penasaran, nomer yang dipanggil sudah sampai nomer berapa. Amelia shock! Ternyata baru sampai nomer B160. Harus menunggu 160 orang lagi untuk bisa membatalkan tiketku ini. Astaga.. lebih baik kuurungkan saja niatku untuk membatalkan tiket ini.

Saat itulah aku bertemu teman seorgandaku. Ibnu namanya. Dia di gambir bersama dengan bapak-bapak. Aku kurang fokus untuk mengetahui bapak-bapak itu siapa, padahal Ibnu sudah menceritakannya saat itu. Otakku sedang hanyut dalam pemikiran, “Bagaimana cara kita untuk bisa cepat sampai rumah?!”

Dia naik kereta malam pukul 19.45, langsung ke Babakan katanya. Dia juga mau membatalkan tiket pukul 21.45, namun antriannya sangat panjang jadi dia memutuskan untuk beristirahat di hotel transit gambir. Kami berpisah. Aku bilang padanya kalau kami ingin mencari travel untuk pulang, karena ayahku belum mendapat tiket pulang. Dia mendoakan kami supaya kami cepat mendapatkan travel.

Setelah itu kami pergi ke pintu selatan dengan harapan langsung menemukan travel itu. Ada! Tapi, ternyata baruuu saja berangkat 10 menit yang lalu. Ish,, itu yang namanya kesel, udah memuncak hingga ubun-ubun. Ingin nangis rasanya.

Akhirnya mau tidak mau aku menunggu di travel itu. Entah sampai kapan aku harus menunggu. Karena penumpang yang datang mencari travel sangatlah jarang dan tidak dapat diprediksi. Aku memasrahkan segalanya kepada Allah swt. Entah kapanpun aku bisa berangkat saat itu, kapan pun juga aku bisa selamat sampai di rumah.

Ternyata, mukjizat Allah swt datang di saat yang tidak terduga. Ibnu tiba-tiba memberitahuku bahwa ada tiket pukul 12.10, cireks. Saat itu pukul 11.51, 19 menit lagi sebelum keberangkatan. Aku teriak di tengah-tengah keramaian dan berlari menuju mesin penjualan tiket otomatis. Aku menginput stasiun keberangkatan gambir dan stasiun kedatangan Cirebon. Ada 6 tiket tersedia. Alhamdulillah. Langsung aku input nama, ktp, dan nomer hp. “Pemesanan ditolak!”

Aku tidak mengerti mengapa bisa ditolak. Katanya nomor hp kami tidak sesuai dengan prosedur. Astaga! Kami dibantu oleh 2 mas-mas CSO. Mereka sudah mencoba untuk memasukkan nomor hp mereka di sistem, hanya untuk ditolak dengan mentah-mentah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, 10 menit lagi berangkat.

Salah satu mas-mas CSO mengusulkan untuk langsung membeli tiket di loket pemesanan. KTP-ku dan ayahku dimintanya, untuk langsung dipesankan oleh petugas loket. Namun petugas loket tersebut tidak serta merta langsung memesankan tiket untuk kami. Karena mengingat waktunya sudah 7 menit lagi menuju keberangkatan, dia sangsi untuk mencetakkan tiket, takut kami terlambat katanya. Aku tidak perduli. Aku harus mengambil resiko di depanku itu. Aku harus mengambil tiket itu, karena kalau tidak, aku tidak tahu bisa sampai Cirebon tahun kapan kami.
Dengan sangat enggan mas-mas petugas loket tersebut mencetakkan tiket untuk kami setelah aku berteriak-teriak di telpon dan meminta ayahku untuk segera tiba di pintu utara. Mas-mas petugas loket itu mengancam aku, 3 menit lagi keberangkatan. Apabila terlambat, dia mengatakan bahwa dia sudah berusaha untuk mencegah kami untuk rugi tiket kereta. Aku tidak perduli. Langsung kubayar 340 ribu untuk 2 tiket. Mas-mas CSO yang membantuku untuk membelikan tiket pun ikut bolak-balik berlari menyusul ayahku yang masih tertinggal di pintu selatan. “Tenang saja, ayahmu sudah di jalan. Sebentar lagi sampai,” katanya. Aku panik.

3 menit menuju keberangkatan. Akhirnya aku melihat ayahku datang di pintu pengecekan tiket. Kami memeriksakan tiket kami.

2 menit sebelum keberangkatan. Petugas pengecek tiket kereta mengatakan bahwa kami harus menge-print boarding pass dulu sebelum masuk. Kepanikan menguasai otakku. Aku mengamuk panik dan mengatakan bahwa sudah tidak ada waktu kembali lagi untuk mencetak boarding pass karena kereta bisa berangkat kapanpun juga.

1 menit sebelum keberangkatan. Mas-mas CSO tersebut tanpa berkata apa-apa langsung mengambil 2 tiket kami dan berlari menaiki tangga (2 tangga sekaligus) untuk memberitahu kondektur bahwa ada 2 penumpang lagi yang akan segera menaiki kereta tersebut. aku bingung. Otakku freeze 5 detik. Tidak tahu harus ikut berlari atau harus bagaimana. Akhirnya aku pun mengajak ayahku untuk berlari menaiki tangga, untuk bisa sampai di gerbong kereta yang dituju.

0 menit. Aku duduk di bangku kami. Bisnis 1A dan 1B, Cireks, 2 Juli 2016, pukul 12.10 WIB. Kereta kami berangkat. Sebelum berangkat, mas-mas CSO tersebut memberitahu, “Ntar kasih tahu masinisnya, belum sempat mem-verifikasi tiket karena tidak ada waktu.” Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada dia. Sungguh, public servant yang sangat baik itu ya contohnya mas-mas CSO tersebut. rela berlari-lari demi penumpang heboh seperti aku ini.

Aku jadi introspeksi diri. Aku pun harus bisa seperti mas-mas itu. Bekerja dengan rela hati dan penuh profesionalitas dalam segala kondisi. Salut aku dengan mas-mas CSO itu. Semoga saja tanggal 17 Juli nanti aku bisa bertemu kembali dengan mas-mas itu. Sekedar bersilaturahmi dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.

Aku juga sangat berterima kasih pada Ibnu. Tanpa dia, aku tidak tahu bahwa ada 6 tiket tersedia pada pukul 12.10 WIB. Wah.. super sekali hari ini. Keajaiban itu tidak selalu seperti bangunan megah Borobudur atau Pyramid, mendapat tiket kereta di bulan ramadhan menjelang Idul Fitri dalam waktu 10 menit juga merupakan suatu keajaiban yang sangat jarang terjadi. Alhamdulillah. Berkah Ramadhan. Semoga semua orang yang melancarkan perjalanan mudik kami hari ini selalu diberkahi dan dilimpahkan rezekinya Ya Allah. Aamiin 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s